Alamat : Jl. Babakan Raya no 109 Kampus IPB Dramaga - Bogor, Jawa Barat.

Telp / Fax : 0251 8621 264
SMS Center : 0852 8397 9669
PIN BB : 2A1292B5

Jam Kerja : 09.00 - 21.00

Asal Usul Talaga Warna Bogor

Sejak lama Talaga Warna menjadi obyek wisata andalan kabupaten Bogor. Memang, pesona alamnya yang wah, sanggup membuat decak kagum pengunjung atau wisatawan. Tiap hari, ada saja yang mengunjungi telaga ini. Banyak daya tarik danau yang selalu menyedot wisatawan domestic dan manca ini. Salah satunya adalah fenomena alam yang jarang ditemui di tempat lain. Secara administratif, telaga ini masuk dalam wilayah konservasi Bogor, tepatnya di Desa Tugu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, atau kawasan yang terkenal dengan sebutan Bogor-Puncak-Cianjur (Bopuncur)

Keindahannya tak cukup diungkap kata-kata. Inilah danau yang luar biasa indah. Dikitari hutan yang rimbun dan alami. Letaknya di kompleks Gunung Megamendung, berbatasan antara Bogor dan Cianjur. Dibalik itu, ternyata Talaga Warna menyembunyikan sejarah yang nyaris luput dari perhatian.
[talaga+warna.jpg]

Bila ditilik seksama, air yang menggenangi telaga ini kerap berubah warna. Konon, ada tujuh warna yang pada waktu-waktu tertentu tampil bergantian. Tentu saja ini bukan gejala alam biasa. Agaknya itulah sebabnya mengapa telaga ini dinamakan Talaga Warna. Selain itu, masih banyak fenomena lain yang menjadi daya tarik lain danau mungil ini. Seperti kisah tentang bekas Kerajaan Kutatanggeuhan yang pusatnya berada di dasar Talaga Warna.

Putri Ayu

Ada sesuatu yang lain terjadi di sini. Sesuatu yang tersembunyi dibalik keindahan fisik. Sahdi, petugas dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) wilayah III Bogor yang mengelola perlindungan dan pelestarian alam flora dan fauna cagar alam Telaga Warna, menuturkan hal itu. “Ada cerita menarik mengapa telaga ini disebut Telaga Warna,” ungkap Sahdi kepada penulis.

Dahulu, Sahdi mengawali ceritanya, Telaga Warna adalah patilasan atau peninggalan Kerajaan Kutatanggeuhan. Yakni sebuah kerajaan yang berpusat di lereng Gunung Lemo, Komplek Gunung Megamendung. Kerajaan Kutatanggeuhan dipimpin oleh seorang raja yang arif dan bijaksana bernama Prabu Suarnalaya dengan permaisurinya bernama Purbamanah.

Setelah sekian lama membina rumah tangga, sang raja tak kunjung dikarunia seorang anakpun. Padahal, segala upaya sudah dilakukan untuk mendapatkan keturunan. Sampai-sampai para petinggi dan penasehat kerajaan menyarankan agar Sang Prabu memungut seorang anak sebagai penerus kerajaan, lalu mengangkatnya sebagai Putera Mahkota.
Sang Prabu menolak saran itu. Ia menginginkan keturunan asli dari Sang Permaisuri.

Maka beliau memutuskan untuk bertapa, memohon kepada Yang Maha Kuasa agar mendapatkan keturunan dari Sang Permaisuri. Berangkatlah dia menuju Gunung Megamendung. Setelah sekian waktu bertapa, akhirnya Sang Prabu mendapat wangsit yang isinya berupa saran agar Sang Prabu memungut seorang anak angkat, sama dengan saran dari para penasehat kerajaan.

Namun lagi-lagi Sang Prabu tetap pada pendiriannya. Ia ingin mendapat anak yang keluar dari rahim permaisuri. Sebab anak angkat berbeda dengan anak sendiri. Maka dengan penuh keyakinan dan tanpa putus asa, beliau melanjutkan semadinya dengan khusuk, seraya memohon Sang Maha Kuasa memberikan anak asli dari Sang Permaisurinya.
Akhirnya suara gaib terdengar kembali, menjawab keinginan keras Sang Prabu. “Jika begitu keinginanmu, pulanglah engkau,” tutur suara gaib itu.

Mendapat wangsit demikian, Sang Prabu menuruti. Hingga beberapa bulan kemudian Sang Permaisuri positif hamil. Kenyataan itu disambut suka cita Sang Prabu, dan seterusnya tibalah saat sang bayi lahir ke dunia dengan selamat dan sehat.

Bayi mungil berkelamin perempuan itu lantas diberi nama Nyi Ajeng Gilang Rinukmi, dan nama lainnya Putri Ayu Kencana Ungu. Sebagai rasa ungkapan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa, Kerajaan Kutatanggeuhan mengelar pesta tujuh hari tujuh malam dengan sangat meriah, bahkan super mewah.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, waktu terus berputar. Sang Putri tumbuh menjadi remaja yang cantik rupawan. Kecantikannya tiada tara. Banyak pemuda berdecak mengagumi kemolekan sang putri. Raja dan kerabat istana amat menyayangi putrid semata wayang itu.

Hingga tiba usia tujuh belas, Sang Prabu merencanakan pesta ulang tahun yang meriah. Undangan dikirim ke seluruh pelosok negeri, termasuk sahabat dari kerajaan lain. Diundanglah seorang empu yang ahli membuat kalung. Kalung yang terbuat dari emas, perak dan intan berlian itu dipersembahkan buat Sang Putri sebagai kado ulang tahun. Kalung itu melambangkan tanaman, emas perak melambangkan daun-daunan, intan permata melambangkan buah dan bunga-bungaan.

Saking meriahnya pesta ulang tahun Nyi Putri Ayu, warga kerajaan Kutatanggeuhan khususnya, dan sahabat-sahabat sang Prabu, berbondong-bondong memberikan cindera mata sebagai tanda kasih sayang kepada Sang Putri. Cindera mata berupa emas, perak, serta intan berlian. Harta pemberian itu terkumpul demikian banyak. Lalu Sang Prabu memerintah penasehatnya untuk menyimpannya buat kepentingan rakyat.

Talaga Warna

Saat itu Sang Prabu berpidato mengungkapkan rasa gembira dan syukur. Usai pidato, Sang Prabu mengambil kalung tadi untuk diserahkan kepada sang Putri. Namun apa yang terjadi ? Ketika kalung itu diserahkan, ternyata Sang Putri berkehendak lain. Entah mengapa kalung itu bukannya diterima dengan senang hati, malah dilemparkan ke wajah ibunya, sehingga bercerai berai.

Suasana pesta berganti keheningan. Yang terdengar hanya suara isak tangis yang diawali tangisan Sang Permaisuri. Dan seolah menggambarkan rasa duka mendalam, tiba-tiba bagian pendopo kerajaan mengeluarkan air. Air yang keluar itu memancar dengan derasnya. Makin lama kian membesar, hingga akhirnya keraton Kerajaan Kutatanggeuhan tenggelam oleh air mata kerajaan berikut segala isinya. Yang tampak kemudian hanyalah sebuah telaga yang indah dikelilingi pepohonan yang rindang.

Nah, rupanya, dibalik keindahan panorama alam tersebut, terdapat nuansa mistik yang begitu kental. Sewaktu-waktu, kejadian langka kerap berlaku di danau ini. Misalnya air telaga yang tenang dan jernih itu, sering berubah-ubah warna tanpa sebab yang jelas. Fenomena seperti itu terus terjadi sampai sekarang, sehingga orang-orang menyebutnya Talaga Warna. Karena keanehan itulah banyak orang yang kebetulan melihat air telaga berubah warna, sering mengambil airnya untuk obat.

Belakangan, ada beberapa pengunjung yang punya misi khusus. Mereka menjadikan areal Telaga Warna sebagai ajang ngalap berkah. Tidak sedikit yang datang ke sana untuk berziarah serya memohon hajatnya dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa. Akhirnya orang-orang menganggap Talaga Warna sebagai tempat yang dikeramatkan.

Bahkan muncul keyakinan air Talaga Warna manjur untuk pengobatan atas penyakit yang tidak bisa disembuhkan secara medis. Selain itu, banyak pengunjung yang sengaja datang untuk mandi di Telaga Warna, baik siang maupun malam hari. Inilah tradisi unik yang kemudian berkembang. Biasanya, usai mandi, pakaian dalam para peziarah itu ditinggalkan di Talaga Warna. Konon, hal itu untuk menjauhkan diri dari kesialan dan berharap cita-citanya terkabul.

Selain itu, di dalam Talaga Warna, terdapat dua jenis ikan yang hingga kini menjadi misteri. Ikan itu ukurannya besar. Yang berwarna hitam diberi nama si Tihul dan yang kuning dinamakan si Layung. Namun kedua ikan ini tidak ada yang mengetahui mana yang betina dan mana yang jantannya. Kabarnya, dua ikan ini sering berpindah-pindah. Sesekali sering terlihat di sumber mata air Sarongge Cianjur, dan kali lain ada di sumber air Ciburial Bogor.

Ada keyakinan bila seseorang berhasil melihat ikan tersebut, maka segala apa yang menjadi cita-citanya akan terkabul. Malah bagi siapa yang dikehendaki, ikan itu pun sewaktu-waktu akan menampakkan diri dan meloncat ke atas permukaan air telaga. Wallahualam bissawab